Monday, 9 February 2026

kota kota di indonesia yang menurun jumlah angka kelahiran dibanding kematiannya 2026

 Berdasarkan proyeksi dan data kependudukan terbaru, beberapa kota dan provinsi di Indonesia diproyeksikan mengalami penurunan jumlah penduduk alami (kelahiran lebih rendah daripada kematian) atau depopulasi pada tahun 2025-2026. Hal ini disebabkan oleh kombinasi rendahnya Total Fertility Rate (TFR) dan penuaan populasi, terutama di Pulau Jawa dan Bali.

Berikut adalah kota dan provinsi di Indonesia dengan angka kelahiran rendah atau penurunan penduduk alami:
  • Daerah Khusus Jakarta (DKJ): Jakarta diproyeksikan menjadi salah satu wilayah pertama yang mengalami depopulasi lebih cepat, dengan angka kelahiran terendah secara nasional. Faktor utamanya adalah tingginya biaya hidup dan kecenderungan untuk menunda pernikahan atau tidak memiliki anak.
  • Provinsi Bali: Diproyeksikan mengalami depopulasi lebih cepat, di mana jumlah kelahiran semakin rendah.
  • DIY (Daerah Istimewa Yogyakarta): Sering masuk dalam daftar provinsi dengan angka kelahiran terendah di Indonesia, sejalan dengan karakteristik penduduk lansia yang tinggi.
  • Jawa Timur dan Banten: Provinsi ini juga mencatatkan angka kelahiran rendah yang berada di bawah batas ideal (2,1), mendekati kondisi di mana jumlah kematian berpotensi melampaui kelahiran.
Penyebab Utama (2025-2026):
  1. TFR Di Bawah Ideal: Angka kelahiran total (TFR) di beberapa provinsi sudah di bawah 2,1, yang berarti rata-rata wanita melahirkan kurang dari dua anak.
  2. Penuaan Penduduk: Jumlah lansia yang meningkat menyebabkan angka kematian alami di beberapa wilayah perkotaan lebih tinggi.
  3. Depopulasi Jakarta: Perpindahan penduduk keluar dari Jakarta (menuju IKN atau wilayah satelit) diperkirakan mempercepat penurunan jumlah penduduk di DKI pada tahun 2025-2026.
Catatan: Meskipun secara nasional penduduk Indonesia masih bertambah, penurunan alami ini terjadi secara spesifik di kota-kota besar dan provinsi maju di Jawa dan Bali.

No comments:

Post a Comment