kota kota di indonesia yang menurun jumlah angka kelahiran dibanding kematiannya 2026
Berdasarkan proyeksi dan data kependudukan terbaru, beberapa kota dan provinsi di Indonesia diproyeksikan mengalami penurunan jumlah penduduk alami (kelahiran lebih rendah daripada kematian) atau depopulasi pada tahun 2025-2026. Hal ini disebabkan oleh kombinasi rendahnyaTotal Fertility Rate(TFR) dan penuaan populasi, terutama di Pulau Jawa dan Bali.
Berikut adalah kota dan provinsi di Indonesia dengan angka kelahiran rendah atau penurunan penduduk alami:
Daerah Khusus Jakarta (DKJ): Jakarta diproyeksikan menjadi salah satu wilayah pertama yang mengalami depopulasi lebih cepat, dengan angka kelahiran terendah secara nasional. Faktor utamanya adalah tingginya biaya hidup dan kecenderungan untuk menunda pernikahan atau tidak memiliki anak.
Provinsi Bali: Diproyeksikan mengalami depopulasi lebih cepat, di mana jumlah kelahiran semakin rendah.
DIY (Daerah Istimewa Yogyakarta): Sering masuk dalam daftar provinsi dengan angka kelahiran terendah di Indonesia, sejalan dengan karakteristik penduduk lansia yang tinggi.
Jawa Timur dan Banten: Provinsi ini juga mencatatkan angka kelahiran rendah yang berada di bawah batas ideal (2,1), mendekati kondisi di mana jumlah kematian berpotensi melampaui kelahiran.
Penyebab Utama (2025-2026):
TFR Di Bawah Ideal: Angka kelahiran total (TFR) di beberapa provinsi sudah di bawah 2,1, yang berarti rata-rata wanita melahirkan kurang dari dua anak.
Penuaan Penduduk: Jumlah lansia yang meningkat menyebabkan angka kematian alami di beberapa wilayah perkotaan lebih tinggi.
Depopulasi Jakarta: Perpindahan penduduk keluar dari Jakarta (menuju IKN atau wilayah satelit) diperkirakan mempercepat penurunan jumlah penduduk di DKI pada tahun 2025-2026.
Catatan: Meskipun secara nasional penduduk Indonesia masih bertambah, penurunan alami ini terjadi secara spesifik di kota-kota besar dan provinsi maju di Jawa dan Bali.
Hingga awal tahun 2026, Indonesia secara umum belum mencapai titik di mana jumlah kematian melampaui jumlah kelahiran secara nasional (pertumbuhan penduduk alami negatif). Namun, tren penurunan angka kelahiran (fertilitas) yang tajam sudah mulai terlihat di kota-kota besar.
Beberapa wilayah dan kota yang tercatat memiliki angka kelahiran terendah dan diproyeksikan mengalami depopulasi atau perlambatan pertumbuhan yang signifikan adalah:
DKI Jakarta: Memiliki angka Total Fertility Rate (TFR) terendah di Indonesia, yakni sekitar 1,75 (di bawah batas penggantian 2,1). Berdasarkan proyeksi Metro TV News, Jakarta bersama Bali diperkirakan akan mengalami depopulasi lebih cepat dibandingkan wilayah lain.
DI Yogyakarta: Kota-kota di Yogyakarta juga mencatatkan angka kelahiran yang sangat rendah, sering kali masuk dalam jajaran terendah nasional bersama Jakarta.
Bali: Provinsi ini mengalami penurunan minat untuk memiliki anak yang cukup signifikan, yang memicu kekhawatiran krisis penduduk di masa depan.
Jawa Timur (Surabaya & Malang): Wilayah ini secara konsisten menunjukkan tren penurunan angka kelahiran yang stabil dalam beberapa tahun terakhir.
Statistik Utama di Tahun 2026:
Angka Kelahiran Nasional: Diperkirakan berada di angka 16,40 per 1.000 penduduk, turun sekitar 1,26% dari tahun sebelumnya menurut data Macrotrends.
Pertumbuhan Penduduk: Meski angka kelahiran menurun, total populasi Indonesia masih tumbuh menjadi sekitar 287,8 juta jiwa pada pertengahan 2026 karena angka kematian yang juga berhasil ditekan (usia harapan hidup meningkat).
Fenomena "Resesi Seks": BKKBN mencatat bahwa peningkatan usia pernikahan dan tuntutan gaya hidup di kota-kota besar menjadi faktor utama penurunan angka kelahiran.
Secara administratif, data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa meskipun kelahiran melambat, angka kematian di Indonesia pada 2024-2026 masih berada di bawah angka kelahiran, sehingga "minus" penduduk murni (kematian > kelahiran) belum terjadi secara massal di tingkat kota.
No comments:
Post a Comment